Mengapa tahajjud yang bertahan tidak dimulai dari disiplin, tetapi dari cara datang yang berbeda
oleh Annas Vijaya, 27 Dzulhijjah 1447 H
Waktu membaca: ±14 menit
Yang Tidak Terlihat Retak
Mobilnya sudah mati sepuluh menit yang lalu.
Ia baru saja sholat Isya berjamaah. Berdiri di shaf kedua, rukuk bersama yang lain, sujud bersama yang lain, salam bersama yang lain. Dari luar, tidak ada yang salah. Tetapi ia tahu, dan hanya ia yang tahu, bahwa selama enam rakaat tadi mulutnya membaca sementara hatinya tidak ikut. Bibirnya mengucapkan Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, tetapi pikirannya sudah lebih dulu sampai di rapat besok pagi.
Ia tidak tahu kapan persisnya itu mulai terjadi. Kapan sholat berubah dari percakapan menjadi formalitas. Kapan doa berubah dari permohonan menjadi kebiasaan mulut. Yang ia tahu: ada jarak yang makin lebar antara dirinya dan Allah, dan ia tidak punya cukup keberanian untuk mengakuinya kepada siapa pun.
Dari luar, hidupnya berjalan. Pekerjaan tetap produktif. Keluarga tetap terurus. Pesan-pesan tetap dibalas. Ia bahkan masih hadir di pengajian sesekali, masih menyumbang di kotak amal, masih menjawab “Alhamdulillah” ketika ditanya kabar. Tetapi di tempat yang tidak dilihat orang, ada sesuatu yang perlahan terkikis. Seperti tembok yang dari luar masih berdiri tegak, tetapi dari dalam sudah penuh retakan halus yang belum sempat diperbaiki.
Ia tidak hancur. Ia hanya kering.
Dan kekeringan seperti itu tidak sembuh dengan liburan yang lebih sering, atau motivasi yang lebih keras. Al-Qur’an menyebut ini dengan sangat tepat: bahwa hati memang tidak bisa tenang dengan cara lain. Ia hanya tenang dengan mengingat Allah. Bukan karena itu rumus magis. Tetapi karena hati memang diciptakan untuk itu. Seperti paru-paru yang diciptakan untuk udara, hati diciptakan untuk kedekatan dengan Tuhannya. Cabut kedekatan itu, dan ia akan sesak meskipun segalanya tampak baik-baik saja.
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d [13]: 28)
Kalau Anda mengenali diri Anda di paragraf-paragraf ini, tulisan ini ditulis untuk Anda. Bukan untuk menghakimi. Bukan untuk menambah beban. Tetapi untuk menawarkan satu kemungkinan yang mungkin selama ini Anda dekati dengan cara yang keliru.
Tahajjud.
Ia adalah ruang pulang bagi hati yang terlalu lama hidup di permukaan.
Tetapi sebelum kita bicara tentang bagaimana mendekatinya, kita perlu jujur dulu tentang satu hal: mengapa selama ini tahajjud terasa begitu berat untuk dimulai? Mungkin masalahnya bukan pada tahajjud. Mungkin masalahnya pada cara kita selama ini mendekatinya.
Cara Lama yang Tidak Pernah Berhasil
Ada tiga pintu masuk yang paling sering dipakai orang untuk mendekati tahajjud. Ketiganya terlihat benar dari luar. Ketiganya berujung pada tempat yang sama: berhenti di tengah jalan.
Pintu pertama: rasa bersalah.
Seseorang bangun malam karena merasa berdosa. Karena merasa tertinggal. Karena mendengar ceramah yang membuatnya merasa tidak cukup baik. Ia bangun dengan hati yang berat, bukan karena kantuk, tetapi karena ia datang sebagai terdakwa yang sedang berusaha meringankan hukumannya. Sholatnya terasa seperti pembayaran utang. Doanya terasa seperti pembelaan di pengadilan.
Ibadah yang dimulai dari rasa bersalah menjadikan Allah sebagai hakim yang harus dilunakkan. Padahal Dia sedang menjadi tuan rumah.
Pintu kedua: kompetisi spiritual.
Seseorang bangun malam karena melihat orang lain melakukannya. Karena temannya posting tentang tahajjud. Karena ustadz favoritnya menyebut tahajjud sebagai “senjata orang beriman” dan ia tidak mau ketinggalan. Motivasinya bukan kerinduan kepada Allah, tetapi keinginan untuk tidak kalah dari sesama hamba.
Ibadah yang dimulai dari kompetisi akan berhenti begitu motivasi sosialnya hilang. Dan motivasi sosial selalu hilang.
Pintu ketiga: target performa.
Seseorang langsung memasang standar tinggi. Delapan rakaat. Bacaan panjang. Harus menangis. Harus merasakan getaran spiritual yang luar biasa. Ketika kenyataannya tidak sesuai ekspektasi, yang muncul bukan kesabaran, tetapi kekecewaan pada diri sendiri. “Saya sudah bangun jam tiga pagi, tetapi tidak merasakan apa-apa. Mungkin saya memang belum layak.”
Tiga pintu ini punya satu kesamaan: semuanya menempatkan manusia sebagai pusat. Rasa bersalah saya. Kompetisi saya. Performa saya. Semuanya tentang saya. Dan ibadah yang pusatnya adalah diri sendiri, bukan Allah, akan selalu kehabisan bahan bakar.
Lalu bagaimana seharusnya? Kalau bukan dari rasa bersalah, bukan dari kompetisi, bukan dari target performa, dari mana tahajjud seharusnya dimulai?
Undangan, Bukan Tuntutan
Ada satu hadits yang mengubah seluruh kerangka ini kalau kita benar-benar meresapinya.
Setiap malam, di sepertiga terakhir, Allah turun ke langit dunia dan berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)
Perhatikan bahasanya. Ini bukan bahasa penagih utang. Ini bukan bahasa atasan yang memeriksa kinerja bawahan. Ini bahasa Tuan Rumah yang membuka pintu-Nya selebar-lebarnya dan bertanya: adakah yang mau datang?
Bukan kita yang harus memanjat ke langit. Dia yang turun.
Dan tawaran ini diulang setiap malam. Termasuk malam-malam ketika kita tidak datang. Termasuk malam-malam ketika kita memilih layar ponsel daripada sajadah. Termasuk malam-malam ketika kita merasa terlalu kotor untuk menghadap. Pintu itu tetap terbuka. Pertanyaan itu tetap diulang. Tanpa jeda. Tanpa syarat.
Al-Qur’an menegaskan ini dengan kalimat yang seharusnya membuat setiap hamba yang merasa terlambat berhenti sejenak:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS Az-Zumar [39]: 53)
Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang sudah bersih. Ia ditujukan kepada orang-orang yang melampaui batas. Orang-orang yang tahu mereka sudah jauh. Orang-orang yang merasa terlalu kotor untuk kembali. Justru kepada mereka Allah berkata: jangan putus asa.
Maka tahajjud, dalam esensinya, bukan tuntutan. Ia adalah undangan. Dan undangan itu datang bukan karena kita sudah layak, tetapi justru karena kita membutuhkan.
Rasulullah sendiri memberi teladan yang mengubah cara kita memahami ini. Beliau berdiri dalam sholat malam sampai kaki beliau bengkak. Ketika Aisyah bertanya mengapa beliau melakukan itu padahal Allah sudah mengampuni dosa beliau yang lalu dan yang akan datang, beliau menjawab: “Afala akunu abdan syakura?” Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur? (HR Bukhari dan Muslim)
Perhatikan. Tahajjud Rasulullah tidak dimulai dari rasa bersalah. Tidak dimulai dari ketakutan. Tidak dimulai dari target performa. Ia dimulai dari syukur. Dari rasa terima kasih yang begitu besar sehingga tidak cukup diungkapkan di siang hari saja.
Ini mengubah segalanya. Kalau tahajjud adalah undangan, maka pintu masuknya bukan disiplin. Pintu masuknya adalah kegembiraan. Gembira karena masih dipanggil.
Gembira Sebelum Disiplin
Bayangkan dua orang yang sama-sama bangun jam tiga pagi.
Yang pertama bangun dengan alarm yang sudah disnooze dua kali. Ia duduk di tepi kasur dengan mata berat dan hati yang lebih berat. Di kepalanya berputar kalimat: Saya harus bangun. Saya kurang baik kalau tidak tahajjud. Orang lain saja bisa, masa saya tidak. Ia mengambil wudhu seperti orang yang sedang menjalani hukuman. Ia berdiri di sajadah seperti orang yang sedang membayar cicilan.
Yang kedua bangun dengan mata yang sama beratnya. Tubuhnya sama lelahnya. Tetapi ada satu hal yang berbeda di dadanya. Sebelum tidur tadi malam, ia mengucapkan satu kalimat sederhana kepada dirinya sendiri: Ya Allah, kalau Engkau membangunkan saya, itu artinya Engkau masih mau menerima saya. Dan ketika alarmnya berbunyi, yang pertama kali ia rasakan bukan beban, tetapi rasa terima kasih yang halus: Saya dibangunkan. Pintu belum ditutup. Saya masih boleh datang.
Keduanya sama-sama wudhu dengan air dingin. Keduanya sama-sama berdiri di kegelapan. Tetapi yang satu merasa sedang membayar utang, yang lain merasa sedang menerima hadiah.
Gembira yang dimaksud di sini bukan euforia. Bukan kegembiraan yang riuh atau ringan tanpa kesungguhan. Ia adalah rasa halus seorang hamba yang menyadari satu kebenaran sederhana: bahwa kesempatan untuk kembali kepada Allah itu sendiri sudah merupakan karunia. Ada orang yang malam ini tidak dibangunkan. Ada orang yang malam ini tidak lagi punya kesempatan. Tetapi Anda masih di sini. Masih bernapas. Masih diberi waktu.
Dan kesadaran itu, kalau dibiarkan meresap, mengubah seluruh nada ibadah. Yang tadinya terasa seperti tugas tambahan berubah menjadi perjumpaan. Yang tadinya terasa seperti beban berubah menjadi karunia.
Tahajjud yang bertahan bukan tahajjud yang dimulai dari alarm yang lebih keras. Ia dimulai dari hati yang memahami bahwa ia sedang diundang, bukan sedang dihukum.
Lalu apa yang terjadi ketika seseorang benar-benar berdiri di sajadah itu? Apakah selalu terasa indah? Apakah selalu terasa dalam?
Apa yang Terjadi di Lantai Sajadah
Tidak selalu.
Dan kejujuran ini penting, karena terlalu banyak orang berhenti dari tahajjud bukan karena malas, tetapi karena kecewa. Mereka membayangkan malam yang penuh air mata dan kekhusyukan. Yang mereka dapatkan adalah pikiran yang tetap lari ke mana-mana dan sholat yang terasa mekanis. Lalu mereka menyimpulkan: Saya belum layak. Ini belum waktunya.
Padahal bukan itu ukurannya.
Ada tiga jenis malam yang akan Anda temui kalau Anda memutuskan untuk memulai, dan ketiganya perlu Anda kenali agar tidak salah membaca pengalaman Anda sendiri.
Ada malam yang pecah. Malam ketika Anda sujud dan tiba-tiba sesuatu yang selama ini tertahan akhirnya keluar. Bukan karena Anda memaksanya. Ia keluar sendiri, seperti air yang menemukan celah di bendungan yang terlalu lama menahan. Doa yang selama ini hanya di kepala tiba-tiba sampai ke dada. Air mata yang selama ini tidak punya tempat tiba-tiba menemukan jalannya. Malam seperti ini tidak sering datang. Tetapi ketika datang, Anda akan mengerti mengapa orang-orang yang pernah merasakannya tidak bisa berhenti kembali.
Ada malam yang kering. Malam ketika bacaan terasa seperti suara kosong. Pikiran terus lari ke tagihan yang belum dibayar, ke deadline yang mengejar, ke percakapan siang tadi yang masih mengganjal. Anda menyelesaikan dua rakaat dan tidak merasakan apa-apa. Tidak ada air mata. Tidak ada getaran. Hanya dua rakaat yang terasa seperti formalitas di kegelapan.
Dan ada malam yang biasa. Tidak dramatis, tidak kering. Anda bangun, wudhu, sholat dua rakaat, berdoa sebentar, lalu kembali tidur. Tidak ada cerita besar untuk diceritakan. Hanya keputusan kecil yang dijalankan dengan tenang.
Ketiga malam ini sama-sama sah di hadapan Allah.
Allah tidak menilai berdasarkan intensitas air mata kita. Dia menilai berdasarkan keputusan kita untuk tetap datang.
Al-Qur’an sendiri menggunakan bahasa yang penuh kelembutan ketika berbicara tentang tahajjud: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajjud sebagai tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra [17]: 79)
Para mufassir klasik seperti Ibnu Katsir dan Ath-Thabari menegaskan bahwa kata mudah-mudahan ketika datang dari Allah bukan tanda ketidakpastian. Ia adalah janji yang disampaikan dengan kelembutan. Seperti orang tua yang berkata kepada anaknya: “Cobalah, mudah-mudahan kamu akan menemukan sesuatu yang indah.” Bukan perintah yang mengancam. Tetapi ajakan yang penuh kasih.
Maka jangan berhenti hanya karena malam Anda terasa kering. Jangan menyimpulkan bahwa Anda belum layak hanya karena air mata belum turun. Teruslah datang. Karena yang sedang dibangun bukan pengalaman spiritual yang dramatis. Yang sedang dibangun adalah hubungan. Dan hubungan yang kuat tidak dibangun hanya di momen-momen puncak. Ia dibangun juga di malam-malam yang biasa, yang sepi, yang tidak ada yang tahu kecuali Anda dan Allah.
Tetapi ada satu hal yang hampir selalu terjadi, meskipun malamnya terasa kering: siang harinya berbeda. Tidak selalu dramatis. Tetapi berbeda.
Siang Hari Seseorang yang Punya Malam
Perubahannya tidak datang seperti kilat. Tidak ada perubahan besar yang terjadi dalam satu malam. Tetapi ada sesuatu yang bergeser, pelan, di tempat yang tidak mudah ditunjuk dengan jari.
Seorang ayah yang biasanya langsung meledak ketika anaknya menumpahkan air di meja makan, pagi itu punya jeda setengah detik lebih panjang. Hanya setengah detik. Tetapi setengah detik itu cukup untuk memilih kalimat yang berbeda. Dan kalimat yang berbeda itu mengubah suasana seluruh rumah hari itu. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi orang yang sempurna. Tetapi karena semalam, di kegelapan yang tidak dilihat siapa pun, ia sudah meletakkan sebagian bebannya di tempat yang benar.
Seorang ibu yang biasanya menyimpan kekecewaan sampai menumpuk dan meledak dalam satu kalimat yang menyakiti, minggu ini sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang. Masalahnya masih sama. Tetapi dadanya sedikit lebih lapang. Ada ruang kecil yang terbuka di antara luka dan reaksi. Ruang itu tidak muncul dari buku self-help atau teknik manajemen emosi. Ruang itu muncul dari sajadah yang basah jam tiga pagi.
Seorang profesional yang masuk ke rapat dengan tekanan yang sama seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda di caranya mendengar. Ia sedikit lebih sabar sebelum menjawab. Sedikit lebih mampu menahan diri dari komentar yang tajam. Bukan perubahan yang bisa difoto atau diposting. Tetapi orang-orang di sekitarnya merasakannya, meskipun mereka tidak tahu dari mana asalnya.
Al-Qur’an menyebut bahwa sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (QS Al-Ankabut [29]: 45). Ini bukan klaim bahwa sholat membuat seseorang langsung sempurna. Ini adalah prinsip yang bekerja secara bertahap. Sholat yang dilakukan dengan kehadiran hati, pelan-pelan, membangun semacam pagar batin. Dan tahajjud, karena dilakukan di waktu yang paling sunyi dan paling jujur, membangun pagar itu di lapisan yang paling dalam.
Buah tahajjud bukan pengalaman spiritual yang bisa diceritakan di pengajian. Buahnya adalah hari Senin yang sedikit lebih sabar. Adalah Selasa yang sedikit lebih jujur. Adalah Rabu yang sedikit lebih lembut kepada orang-orang yang kita cintai.
Tetapi semua ini hanya berarti kalau ia bertahan. Dan di situlah tantangan yang paling manusiawi.
Kecil, Jujur, dan Tidak Berhenti
Musuh terbesar tahajjud bukan kemalasan.
Musuh terbesarnya adalah perfeksionisme.
Orang yang memulai dengan target delapan rakaat di minggu pertama akan berhenti lebih cepat daripada orang yang memulai dengan dua rakaat dan satu doa yang sungguh-sungguh. Orang yang menunggu kondisi sempurna, jadwal yang longgar, energi yang penuh, suasana hati yang tepat, akan menunggu selamanya. Karena kondisi sempurna tidak pernah datang. Yang datang hanya malam berikutnya, dengan segala ketidaksempurnaannya.
Maka mulailah dari sesuatu yang sangat kecil. Dua rakaat. Itu saja. Bukan delapan. Bukan empat. Dua rakaat dengan Al-Fatihah dan surat pendek yang Anda hafal sejak kecil. Lalu satu doa. Bukan doa panjang yang Anda baca dari buku. Doa dengan bahasa Anda sendiri, tentang hal yang benar-benar Anda rasakan malam itu. Itu sudah cukup sebagai awal.
Rasulullah bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit. (HR Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)
Perhatikan: bukan yang paling banyak. Bukan yang paling panjang. Bukan yang paling dramatis. Tetapi yang paling konsisten.
Imam Bukhari, sebagaimana ia sendiri nyatakan, mengumpulkan dan menyeleksi hadits-hadits dalam kitab shahihnya selama enam belas tahun. Dari sekitar enam ratus ribu hadits yang ia kumpulkan, hanya beberapa ribu yang lolos seleksinya. Bukan dalam ledakan semangat yang menyala lalu padam. Tetapi dalam ketekunan yang tenang, yang tidak terlihat megah dari luar, tetapi menghasilkan sesuatu yang bertahan berabad-abad. Tahajjud bekerja dengan logika yang sama. Bukan ledakan. Tetapi tetesan yang tidak pernah berhenti.
Dan kalau Anda terputus, karena Anda pasti akan terputus, jangan jadikan itu alasan untuk berhenti total. Jangan biarkan satu minggu yang kosong menjadi alasan untuk menyerah selamanya. Kembali saja. Tanpa drama. Tanpa pengumuman. Tanpa menunggu momen yang tepat. Kembali seperti orang yang pulang ke rumah setelah pergi terlalu lama. Tidak perlu mengetuk pintu. Pintu itu memang tidak pernah dikunci.
Malam Ini
Kita kembali ke orang yang duduk di mobilnya setelah Isya.
Mesin sudah mati. Lampu masjid mulai dipadamkan. Ia masih belum turun. Di dadanya masih ada jarak itu, jarak antara bibirnya yang membaca dan hatinya yang tidak ikut. Jarak itu belum hilang. Mungkin besok juga belum hilang.
Tetapi malam ini, ia punya satu pilihan kecil yang bisa ia buat.
Bukan pilihan untuk menjadi orang yang berbeda. Bukan pilihan untuk langsung menjadi ahli tahajjud. Hanya pilihan untuk mencoba. Untuk pulang, tidur dengan niat yang jujur, dan melihat apakah ia dibangunkan. Kalau ia bangun, ia akan wudhu. Ia akan berdiri. Dua rakaat. Satu doa. Dengan bahasa yang tidak perlu indah, cukup jujur.
Ia tidak perlu menunggu menjadi orang yang layak. Ia tidak perlu menunggu dosanya berkurang atau imannya bertambah. Ia tidak perlu menunggu hatinya terasa siap, karena hati yang menunggu kesiapan sempurna adalah hati yang tidak pernah berangkat.
Jangan tunggu menjadi orang yang layak. Datanglah sebagai orang yang butuh.
Besok mungkin masih berat. Lusa mungkin ia terputus lagi. Minggu depan mungkin alarmnya tidak berbunyi, atau berbunyi tetapi ia memilih untuk mematikannya. Semua itu mungkin terjadi. Dan semua itu bukan akhir.
Karena setiap malam, tanpa pernah absen, pintu itu tetap terbuka. Pertanyaan itu tetap diulang. Undangan itu tetap berlaku.
Termasuk malam ini.
CTA: Jika tulisan ini terasa relevan untuk seseorang yang Anda kenal, kirimkan. Kadang orang butuh diingatkan bahwa pintu itu masih terbuka.
