Hajj23: (6) Makkah sebelum Berhaji

Saat musim haji suasana kota Mekah memang luar biasa. Hiruk pikuk jutaan jamaah dari berbagai etnis, warna kulit, bahasa, berkumpul bersatu di kota ini. Masjidil Haram sebagai sentral ibadah tak pernah lengang, hingga sulit berharap bisa shalat fardhu didalam masjid bila datang kurang dari 2 jam sebelum adzan. Petugas keamanan juga menutup akses jamaah pria yang tidak ber-ihram ke lantai dasar Masjidil Haram. Artinya, bagi jamaah pria, lantai dasar hanya diperuntukkan bagi mereka yang akan ber-umrah, ATAU sekedar berseragam ihram :D.

Suasana sekitar Masjidil Haram selepas sholat Isya berjamaah.

Dalam kondisi normal, untuk jamaah yang tinggal di hotel yang cukup jauh dari Al Haram terdapat moda angkutan jamaah dari hotel menuju Masjidil Haram, semacam shuttle bus gratis. Karena begitu banyak jamaah haji asal Indonesia, di terminal kawasan Ajyad terdapat kluster khusus bis untuk jamaah Indonesia. Karena berwajah asli ‘Indonesia’ seringkali kami diarahkan ke terminal kluster tersebut oleh petugas sambil berkata “Indonesia..Indonesia…”, kemudian kami jawab:”Bukaan.. dari Jerman” dan selalu dialog ini diakhiri dengan kepusingan petugas :D.

Moda gratis yang mengantar jamaah dari Hotel ke Masjidil Haram pp.

Contoh bus untuk jamaah dari Macedonia.

Meski moda gratis ini sangat membantu jamaah untuk pergi pulang dari hotel ke Msajidil Haram, namun pada tanggal 5 Dzulhijjah, dengan alasan kontrol jamaah di Masjidil Haram, moda ini dihentikan, dan terminal bus ditutup. Untuk ke Masjidil Haram, jamaah bisa berjalan atau menggunakan taksi yang harganya selangit. Ini bisa dipahami, karena menjelang waktu pelaksanaan haji, seluruh jamaah akan berkumpul di Makkah. Sebagai bayangan, saat Jum’atan, karena didalam Masjid telah penuh, Masjidil Haram sudah ditutup dari 5 jam sebelum Khatib naik mimbar.

Jarak antara Masjidil Haram dengan Hotel tempat kami bermalam di Makkah.

Kami beruntung hanya berjalan 20 menit mendaki dari kawasan Ajyad tempat hotel kami berada. Dengan keuntungan ini kami tetap bisa berkesempatan untuk 5 sholat Fardhu dan minimal 1 kali tawaf setiap hari di Al Haram. Jamaah lain ada yang membutuhkan waktu hingga 2 jam berjalan bila akan ke Al Haram dari hotelnya atau membayar taksi dengan harga fantastis. Sebagai gambaran, Taksi akan meminta bayaran minimal 100 SAR (bisa untuk ber-4) untuk menempuh jarak kurang dari 2Km ke hotel kami. Perlu diketahui juga bahwa gaya taksi di Saudi terutama saat musim haji begitu berbeda dengan bayangan kita. Taksi boleh dan berhak mengangkut penumpang lain yang tidak kita kenal dijalan meski kita sedang berada didalamnya. Jadi semacam AngKot berjenis sedan lah ;p

Perlu diingat, meski tersedia waktu untuk berjalan-jalan di kota Makkah, karena puncak hari Haji belum sampai, maka semua jamaah termasuk kami dituntut untuk selalu menjaga kondisi dan menahan diri. Hiburan bagi kami untuk menjaga ini adalah kulineran 😀 atau memperhatikan keunikan jamaah dari seluruh dunia.

Selagi di Makkah, cobalah untuk mandi dengan kesegaran air Zamzam.

Cara petugas membersihkan area untuk Tawaf lantai 2 ditengah penuhnya Jamaah beribadah.

Mencoba new expansion ‘open air’ area di Lantai teratas Masjidil Haram yang cukup nyaman terutama di pagi dan malam hari.

Mencoba Tawaf di lantai teratas yang berjarak 3-4 kali dari lantai dasar dengan durasi sekitar 1 jam.

Ka’bah dilihat dari rooftop Masjidil Haram.

Suasana saat mencoba menyentuh Hajar Aswad.

Sesaat sebelum shalat Maghrib berjamaah di pelataran Ka’bah.

&&&

  • All
  • Hajj23

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *